أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِن كُنتُمْ صَارِمِينَ
68.22. "Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".
[ Al Qalam : 22 ]

Minggu, 17 Januari 2010

Makalah Ulumul Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN
Telah kita ketahui bersama, masing-masing dari tiga agama samawi mempunyai kumpulan kitab yang khusus. Salah satu agama samawi tersebut adalah Islam, yang mana kitabnya adalah Al Quran. Al Quran merupakan wahyu yang diterima nabi Muhammad SAW, dengan perantaraan malaikat Jibril.
Al Quran merupakan bagian dari kalimat Allah SWT, yang sering di sebut ayat qauliyah , disamping ayat lainnya yang dikenal dengan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah firman Allah SWT yang diantara lain terhimpun dalam Al Quran, sedangkan Ayat ayat kauniyah adalah bukti-bukti keagungan-NYa yang tersebar luas di seantero jagat raya ini.
Sebagai ayat qauliyah, Al Quran mempunyai banyak keistimewaan terutama karena merupakan kalam Ilahi yang penuh keajaiban, sebagai sumber kebenaran dan keadilan, dan menjadi petunjuk bagi yang membutuhkan bimbingan, dan dengan berpegang teguh kepadanya akan terhindar selamanya dari kesesatan. Tak heran jika dari masa kemasa, Al Quran selalu menjadi bahan penelitian untuk di jadikan riset ( Petunjuk ).
Menurut pengakuan seorang pakar ( peneliti ), “ Tidak masuk akal bahwa seseorang yang hidup pada masa abad ke 7 masehi, dapat melontarkan dalam Al Quran ide-ide mengenai bermacam-macam hal yang bukan merupakan pemikiran manusia pada waktu itu, dan ide-ide itu cocok dengan apa yang akan dibuktikan oleh sains beberapa abad kemudian, Bagiku tak ada lagi kemungkinan bahwa Al Quran itu buatan manusia”.
Secara ringkasnya Al Quran itu kalamullah yang mengumpulkan segala macam ilmu Allah SWT berfirman :
(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Dan sabda nabi:
ﻔﻴﻪ ﻧﺑﺎ ﻤﺎ ﻘﺑﻟﻜﻢ ﻭﺨﺒﺮ ﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﻜﻡ ﻭﺤﻜﻡ ﺑﻴﻧﻜﻡ
( Di dalam Al Quran itu ada berita sebelum kamu, ada kabar orang sesudah kamu dan hukum yang terjadi di antara kamu ) H.R. At Turmudzi.
Untuk membicarakan lebih lanjut, tentang Al Quran dan Wahyu , selanjutnya kita bahas bersama-sama pada bab pembahasan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. TA’RIF AL QURAN.
A. Penamaan Al Quran
Al Quran secara lughat ialah bacaan atau yang dibaca. Al Quran adalah mashdar yang diartikan dengan arti isim maf’ul, yaitu “ Maqru” ( yang dibaca ).
Menurut Istilah ahli agama ( uruf Syara’), ialah nama bagi kalamullah yang turunkan kepada nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam mushhaf Demikianlah menurut ‘uruf, menurut makna yang populer, dalam kalangan ummat.
Mengenai asal kata Al Quran banyak para ulama berbeda pendapat:
a) Para ahli ushul fiqih menetapkan bahwa Al Qur-an adalah nama bagi keseluruhan Al Qur-an dan nama untuk bagian-bagiannya.
Disebut dalam At Talwih, Al Qur-an dalam ‘uruf am, ialah nama bagi keseluruhan Al Quran yang telah dikumpulkan dalam mashhaf. Dalam pendapat ahli ushul, Al Qur-an adalah menjadi nama bagi keseluruhannya dan menjadi nama bagi suku-sukunya (ayat-ayatnya).
b) Al Qur-an menurut pendapat Ahli kalam, ialah: Yang ditunjuk oleh yang dibaca itu, yakni: Kalam azali yang berdiri pada dzat Allah yang senantiasa bergerak (tak pernah diam) dan tak pernah ditimpa sesuatu bencana”.
c) Al Alusy dalam Ruhul Ma’ani berkata: Para Mutakalimin memberi nama Al Qur-an kepada kalimat-kalimat yang gaib yang azali, sejak dari awal Al Fatihah sampai akhir An Nas, yaitu: lafad-lafad yang terlepas dari sifat kebendaan , baik secara dirasakan, dikhayalkan, ataupun lain-lain yang tersusun pada sifat Allah yang qadim.
d) Kata setengah ulama: Al Qur-an, kalau dibaca ”Qur-an” dengan tidak membaca :Al di depannya, adalah nama bagi segala yang dibaca. Bila disebut Al Qur-an, maka tertujulah kepada Kalam bagi Allah yang diturunkan di dalam bahasa ‘Arab’.
e) Kata As Sayuthy dalam Al Itman : ‘Batas arti kata Al Qur-an ialah “Kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad , yang tak dapat ditanding oleh yang menentangnya, walaupun sekedar sesuatu ayat saja.”
Kemudian, apabila pengertian-pengertian kata “Qur-an kita ditinjau lebih jauh, terdapatlah di sekitarnya lima pendapat. Tiga pendapat dibawah adalah beberapa contoh dari Ulama yang berpendapat bahwa lafadz al Qur’an tanpa huruf hamzah ditengahnya jauh dari kaidah pemecahan kata (isytiqaq) dalam bahasa Arab.
1) Pendapat Asy Syafi’y, yaitu: Lafad Al Qur-an yang dita’rifkan dengan “Al” tidak berhamzah (tidak berbunyi An) dan bukan diambil dari sesuatu kalimat lain tidak diambil dari qara’tu sama dengan aku telah baca. Kata itu istilah resmi bagi kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad”. Menurut ini, harus kita baca “Al Qur-an” dengan tidak membunyikan ‘a”.
2) Pendapat yang dinukilkan dari Al Asy’ary dan beberapa golongan lain, yaitu: “lafad Qur-an” diambil dari lafad “qarana” yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain”. Kemudian lafad “Qur-an” itu dijadikan nama kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Dinamai wahyu Tuhan ini dengan Al Qur-an, mengingat bahwa surat-suratnya, ayat-ayatnya dan huruf-hurufnya, beriring-iring dan yang satu digabungkan kepada yang lain.
3) Pendapat Al Farra’ yaitu: lafad “Qur-an” adalah pecahan ( musytaq ) dari kata qara’in ( kata jamak qarinah) yang berarti kaitan, karena ayat-ayat Al Quran satu sama lain saling berkaitan.karena itu jelaslah bahwa huruf nun pada akhir lafad Al Quran adalah huruf asli, bukan tambahan
Sedangkan para ulama’ yang berpendapat bahwa lafadz al Qur’an ditulis dengan tambahan hamzah ditengahnya adalah :
1) Pendapat Az Zajjah yaitu: “Qur-an” itu sewazan (seimbang) dengan “fu’lan”. Yakni, harus dibaca dengan bunyi “Qur-an” (dengan berhamzah). Diambil dari kalimat “qar-i” yang berarti “mengumpulkan”. Dan dinamai “kalamullah” dengan “Que-an”, karena dia mengumpulkan beberapa surat, atau mengumpulkan saripati kitab-kitab yang telah lalu.
2) Pendapat Al Lihyany dan segolongan ulama, bahwa lafad “Qur-an” itu bermakna yang dibaca masdhar (dimaknakan dengan isim ma’ful). Karena Al Qur-an itu dibaca, dinamailah di “Al Qur-an”, pendapat ini yang terkenal.
Menurut nukilan dari Al Jahidh, bahwa Allah menamai kitab-Nya dengan nama yang berlainan dari nama yang dipakai orang Arab untuk nama bagi himpunan-himpunan perkataan mereka (sya’ir dan khutbah). Tuhan menamai kumpulan Kalam-Nya dengan “Al Qur-an”. Orang ‘Arab menamai kumpulan syai’irnya dengan “dewan”. Tuhan menamai sebagian dari Al Qur-an dengan surat, sebagaimana orang Arab menamai sebagian dari isi dewannya dengan qasidah. Tuhan menamai sebagian dari surat Al Qur-an dengan ayat, sebagaimana orana “Arab” menamai sebagian dari qasidahnya dengan qafi (qafiyah).
Menurut Diratul Ma’arif Al Islamiyah, Schwally dan Weelhausen berpendapat, bahwa kata Qur-an berasal dari bahasa Ibro (Suryani) yang ditulis Kiryani=Keryani artinya yang dibacakan. Menurut pendapat Dairatul Ma’arif, perkataan qara-a yang berarti dia telah membaca, bukan bahasa Arab asli, namun bahasa asing yang dimasukkan ke dalamnya.
Untuk memperoleh pengertian yang bernash bagi kata Qur-an, kita harus mengambil maknanya dan memperhatikan cara Al Qur-an, kita harus mengambil maknanya dan memperhatikan cara Al Qur-an sendiri mempergunakan kata tersebut.
Di dalam surat Al Qiyamah Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. (S, Al Qiyamah, 16, 17, 18).
Menurut lahir makna ayat ini, lafad “Quran” diartikan “bacaan”. Yakni: Qur-an ialah: Kalamullah yang dibaca berulang-ulang oleh manusia.Tegasnya, Al Qur-an itu menunjuk kepada pengertian tersebut secara hakikat. Mereka ahli ushul membahas Al Qur-an dari segi kedudukannya sebagai pokok dalil hukum. Maka yang menjadi pokok dalil itu, ialah: Ayat-ayatnya. Maka tiap satu ayat itu juga “Al Qur-an”.
B. Sejarah Pengumpulan Al Quran.
Istilah mengumpulkan (al-jamu’u) mempunyai dua pengertian, pertama berarti memelihara/menghafalnya di dalam dada (al-hifzu). Kedua, berarti menuliskannya kembali dan menyetukan ayat-ayat dan surat-surat yang masih tersebar di beberapa tempat.
Pengumpulan al-Quran dalam arti menghafalnya, sudah dilakukan semenjak ayat pertama kali turun, dan dilakukan paling tidak oleh Rasulullah SAW sendiri. Beliau sebagai orang pertama dan utama dalam kemampuan memelihara dan menghafal Al-Quran.
Pengumpulan Al Quran sudah dilakukan pada zaman nabi Muhammad SAW, kemudian diteruskan oleh para sahabatnya terutama pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Sidiq, atas usulan Umar bin Khattab karena merasa khawatir dimana para penghafal Al Quran dari kalangan sahabat nabi gugur seusai perang Yamamah yaitu perang antara muslimin dan kaum murtad (pengikut Musailamah Al Khazdab yang mengaku dirinya nabi). Khalifah Abu Bakar segera memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengerjakan pengumpulan dari hafalan-hafalan para sahabat didukung catatan-catatan yang ada. Setelah Al Quran dikumpulkan dan ditulis pada kertas, pada masa inilah akhirnya semua sepakat menamakan Al Quran dengan mushaf.
Kemudian pada masa Khalifah Utsman bin Affan menduduki kursi Khalifah pada saat wilayah taklukan kian meluas, semenjak ekspansi yang dilakukan Umar. Banyak para sahabat yang menyebar ke negeri-negeri taklukan sambil membawa misi dakwah dan menyampaikan ayat-ayat Al-Quran. Di kalangan para sahabat didapat cara baca Al-Quran yang terasa tidak seragam. Dikisahkan dalam riwayat Anas, pada saat sahabat Huzaifah bin Al-Yaman mengkoordinasikan penduduk Syam dan Irak untuk bertempur melawan Armenia dan Azerbayjan, Huzaifah mendapati mereka membaca Al-Quran dengan cara baca yang tidak seragam. Lantas Huzaifah melapor kepada Khalifah Utsman dan mengusulkan: “Ya Amiril Mukminin, atasilah umat ini sebelum semakin meluas perbedaan mereka tentang kitab sucinya sebagaimana yang terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani.
Sebenarnya keadaan seperti ini telah pernah terjadi semasa Rasulullah. Pada waktu itu Umar pernah mendengarkan ayat yang dibaca oleh Hisyam bin Hakim dalam shalat, yang dirasakan berbeda apa yang dibaca olehnya. Umar pun bersikeras dan mengadukan hal ini kepada Rasulullah. Ternyata Rasul membenarkan keduanya disertai alasan, demikianlah Al-Quran diturunkan.
Bahwa cara bacaan yang berkembang dan cenderung tidak seragam pada waktu itu memang dimungkinkan ada pembenarannya dari Rasulullah. Pada masa itu, keadaan seperti ini diakui sebagai pembawa rahmat yaitu demi mempermudah bacaan bagi sahabat-sahabat Nabi yang datang dari berbagai suku yang berlainan dialeknya, sehingga dengan demikian suku-suku non quraisy yang kurang fasih bahasanya tidak kesulitan dalam membaca Al-Quran.
Pada masa Utsman, keadaannya menjadi lain. Ketidaksamaan cara bacaan ini semakin terasa bakal membawa akibat yang kurang menguntungkan persatuan umat. Maka timbul dalam pikiran Utsman untuk menyeragamkan melalui sebuah mushaf yang dapat dijadikan lambang persatuan. Rencana Utsman ini segera mendapatkan sambutan positif dari para sahabat. Dibentuklah segera panitian penulisan Al-Quran dengan aturan-aturan penulisan tertentu yang diharapkan dapat memenuhi apa yang mereka butuhkan.
Utsman segera mengutus utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf yang disimpannya sebagai bahan rujukan dalam upaya penulisan kembali. Hafsahpun meminjamkannya, dan Usman membentuk panitia penulisan yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-‘Ash, dan Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam. Zaid dari golongan Anshar, sedangkan tiga lainnya dari suku Quraisy. Lalu mereka menyalin mushaf Hafsah dan Utsman memberi petunjuk teknis kepada ketiga orang yang dari suku Quraisy katanya: “Jika kalian bertiga dalam penulisan Al-Quran berbeda pendapat dengan Zaid, maka tulislah dengan dialek Quraisy, mengingat dengan dialek merekalah Al-Quran diturunkan”.
Hasil pekerjaan panitia empat tersebut digandakan menjadi beberapa mushaf, untuk kemudian dikirimkan ke beberapa kota besar yang ada di bawah kekuasaan kaum muslimin dan diharapkan menjadi standar bacaan setiap orang. Menurut keterangan, jumlah penggandaan mushaf saat itu ada yang mengatakan empat, enam, tujuh. Yang pasti satu diantaranya disimpan di Madinah sebagai ibukota negara dan disebut sabagai mushaf al-imam. Mushaf-mushaf lainnya dikirimkan ke sejumlah kota-kota besar yang menjadi pusat pemerintahan daerah. Bersamaan dengan pengiriman mushaf ke ibukota daerah ini, Utsman juga mengirimkan sahabat-sahabat yang ahli untuk mengajarkan Al-Quran baik kandungan maupun cara bacaannya. Sejak saat terbukukannya mushaf Utsman, catatan-catatan lain yang masih tertinngal dibakar oleh Utsman atas persetujuan sahabat-sahabat lainnya.
C. Beberapa Nama Al quran.
Kemudian dinyatakan pula bahwa “Kalam Ilahi” diwahyukan kepada Muhammad SAW., tidak hanya dinamai Al Qur-an tetapa juga dinamai dengan:
1. Al Kitab.
Lafad al Kitab lebih banyak dipakai dalam Al Mashhaf. Dia adalah maradif bagi lafad Al Qur-an
2. Al Furqan
3. Adz dzikr
Raisul Mufassirin Al Imam Ibnu Jarir ath Thabary telah menjelaskan dalam tafsir besarnya Jami-ul Bayan sebab-sebab dinamai Al Qur-an dengan Al Qur-an dan dengan nama-nama yang empat itu.
Apabila kita perhatikan sebab-sebab Al Qur-an dinamai dengan nama-nama tersebut, karena ia “dibaca”. Dinamai “Al Furqan” karena dia menceraikan yang benar dari yang salah, atau membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Dinamai dengan Al Kitab, adalah karena dia ditulis. Dan dinamai dengan Adz Dzikr, karena dia suatu peringatan dari Allah. Tuhan menerangkan di dalamnya apa yang halal, yang haram, tentang hudud, faraidl, dan karena dia suatu sebutan yang mulia. Az Zarkasyi dan As Sayuthi menyebut limapuluh lima nama bagi “Al Qur-an, dalam kitabnya Al Itqan.
2.2. TA’RIF AL WAHYU
A. Definisi Wahyu dan Hakikatnya
Wahyu menurut ilmu bahasa, ialah: isyarat yang cepat dengan dan sesuatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan. Juga bermakna surat, tulisan, sebagaiman bermakna pula, segala yang kita sampaikan kepada orang lain untuk diketahuinya.
Telah dipakai dengan arti isyarat dengan tangan ataupun dengan yang lain dalam firman Allah: “ Maka Ia mewahyukan ( memberi isyarat ) kepada mereka supaya bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan pada waktu petang “ ( S. Maryam. 11 )
Wahyu menurut istilah, ialah: sebutan bagi sesuatu yang tuangkan dengan cara cepat dari Allah kedalam dada Nabi-nabiNya, sebagaiman di pergunakan juga untuk lafad Al Quran.
Wahyu Allah kepada nabi-nabiNya, ialah: pengetahuan-pengetahuan yang allah tuangkan ke dalam jiwa nabi, untuk mereka sampaikan kepada manusia untuk menunjuki dan memperbaiki mereka di dalam dunia serta membahagiakan mereka di akhirat. Sesudah menerima wahyu itu mempunyai kepercayaan penuh, bahwa yang diterimanya itu adalah dari Allah.
Al Ustadxul Imam Muhammad Abduh dalam bukunya Risalatul Tauhid berkata: “Wahyu itu suatu irfan (pengetahuan) yang didapat oleh seorang di dalam dirinya serta diyakini olehnya bahwa yang demikian itu dari jihad Allah, baik dengan perantaraan, atau dengan tidak bersuara.”
Kata As Saiyid Rasyid Ridla: “Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabinya, ialah suatu ilmu yang dikhususkan untuk merek dengan tidak mereka usahakan dan dengan tidak mereka pelajari. Dia suatu pengetahuan yang mereka peroleh pada diri mereka dengan tidak lebih dahulu berfikir-fikir dan dengan tidak ber-ijtihad, yang disertai oleh suatu pengetahuan halus yang timbul sendirinya, bahwa yang menuangkan ke dalam jiwa mereka itu, ialah Allah Yang Maha Berkuasa.
Penyampaiannya adakalanya dengan menurunkan kitab, seperti At Taurat, menurut pendapat sebagian orang, atau dengan mengutus malaikat Jibril, seperti wahyu Al Qur-an, atau dengan memimpikan, seperti mimpi-mimpi Nabi di permulaan nubuwwahnya, atau dengan jalan mengilhamkan atau dengan jalan lain.
Al Wahyu dinamakan al Kitab yang menunjukkan pengertian bahwa wahyu itu dirangkum dalam bentuk tulisan yang merupakan kumpulan huruf-huruf dan menggambarkan ucapan (lafadz) adapun penamaan wahyu itu dengan al Qur’an memberikan pengertian bahwa wahyu itu tersimpan didalam dada manusia mengingat nama al Qur’an sendiri berasal dari kata qira’ah (bacaan) dan didalam qira’ah terkandung makna : agar selalu diingat,. Wahyu yang diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas itu telah ditulis dengan sangat hati-hati agar terpelihara secara ketat, serta untuk mencegah kemungkinan terjadinya manipulasi oleh orang-orang yang hendak menyalah artikan atau usaha mereka yang hendak mengubahnya. Tidak seperti kitab-kitab suci lain dimana wahyu hanya terhimpun dalam bentuk tulisan saja atau hanya dalam hafalan saja, tetapi penulisan wahyu yang satu ini didasarkan pada isnad yang mutawatir (sumber-sumber yang tidak diragukan kebenarannya) dan isnad yang mutawatir itu mencatatnya dengan jujur dan cermat.
Mengenai hakikat wahyu, kita tidak mungkin mengetahuinya dan memperoleh rahasianya, karena wahyu itu suatu keadaan yang tidak dapat di ketahui hakikatnya oleh manusia selain dari Nabi yang memperoleh wahyu itu sendiri.
Kata Abul Baqa’: “Wahyu itu, pembicaraan yang tersembunyi dapat difahamkan dengan cepat. Dan dia tidak tersusun dari huruf yang memerlukan gelombang suara.”
Diterangkan oleh Al Qusyairi dalam Risalah Al Qusy ary.
Wahyu itu menerima pembicaraan secara rohani, kemudian pembicaraan itu berbentuk, lalu tertulis di hati, atau wahyu itu limpahan ilmu yang Allah tuangkan ke dalam hati Nabi dengan perantaraan pena pengukir yang disebut akal fa’ala atau malak muwarrab. Kekuatan khayalan itulah yang menggambarkan ilmu itu dalam bentuk haraf.
Lembaran perasaan adalah kosong, maka terukirlah ibarat-ibarat itu pembicaraan yang tersusun rapi dan melihat tubuh menusia “itulah wahyu”.

B. Segi Kenyataan Wahyu.
Nabi Muhammad SAW bukanlah seorang rasul yang berbeda dari para nabi dan rasul sebelumnya. Beliau pun bukanlah nabi pertama yang berbicara dengan manusia atas nama wahyu, Kalam Ilahi. Sejak nabi Nuh as, muncul berturut-turut pribadi-pribadi suci pilihan Allah, yang semuanya berbicara atas nama Allah dan semua ucapannya bukanlah keluar dari hawa nafsu. Wahyu Ilahi yang mendukung dan memperteguh kenabian mereka, suatu keadaan yang tidak berbeda dengan kenabian Muhammad SAW. Semuanya adalah serupa, karena sumbernya adalah satu dan tujuannya pun satu juga. ( “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Hai Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan kepada para nabi berikutnya. Dan Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim,Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, (yaitu): Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kepada Dawud Kami Berikan Zabur. (Kami telah pula mengutus) rasul-rasul yang telah Kami kisahkan kepadamu dahulu, dan rasul-rasul (lainnya yang tidak Kami kisahkan kepadamu .Dan ketahuilah Allah telah berbicara langsung dengan Musa” ) ( S. An Nisa, 163-164 ).BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan.
Adapun mengenai definisi Al Qur-an, menurut istilah yang disepakati oleh banyak ulama diantaranya Ushuliyyun dan Fuqaha, bahwa Al Qur-an didefinisikan sebagai kalamullah yang menjadi mu’jizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, malalui Malaikat Jibril, termasuk dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya saja sudah dianggap ibadah.
Al Qur-an adalah penjelma’an wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah dengan perantaraan Jibril, setelah di tulis dan di hafal. Ringkasannya, dapat kita katakana, bahwa: “Al Qur-an itu wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Muhammad SAW, yang telah disampaikan kepada kita ummatnya dengan jalan mutawatir, yang dihukum kafir orang yang mengingkarinya.”
Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal, pada zaman Khalifah Abu Bakar Sidiq, mulai di kumpulkan Al Qur-an, atas usul dari Umar bin Khatab dan di laksanakan oleh Zaid bin Tsabit dengan mengumpulkan para sahabat yang hafal Al Qur-an di dukung catatan yang ada.Kemudian pada zaman Khalifah Usman Al Qur-an di bukukan kembali sehingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.
Wallahu a’alam bi shawab.















DAFTAR PUSTAKA


Mabahits Fi Ulumil Quran., DR. Subhi As Shalih. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004.
Sejarah dan Pengantar ilmu Al Qur-an dan tafsir., Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy., Jakarta: Pustaka Rizki Putera, 1997.
Muhaimin, Drs, MA, “Dimensi-dimensi Studi Islam”, Karya Abditama, Surabaya, 1994:86.
Maurice Bucaille., Bibel, Quran dan Sains modern, Jakarta: Bulan Bintang, 2007.

Tidak ada komentar:

KALENDER