RamahNUsantara, Semarang - Agama islam diturunkan oleh Allah swt untuk kemaslahatan kehidupan manusia dan alam semesta. Islam tidak h...
RamahNUsantara, Semarang - Agama islam diturunkan oleh Allah swt untuk kemaslahatan kehidupan manusia dan alam semesta. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Islam juga mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan alam semesta yang menjadi tempat hidupnya.
Bahkan perhatian agama terhadap keharmonisan hubungan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan lebih banyak porsinya daripada yang berhubungan langsung dengan Tuhannya.
Tuhan tidak menerima ibadah seseorang bila pakaian atau sarana yang dipakai ibadah hasil dari menzalimi hambanya. Tuhan tidak mau menerima pertaubatan kesalahan seseorang yang ia lakukan kepada sesama hambaNya, ia harus meminta maaf langsung kepada orang yang dizaliminya. Tuhan memilih mengalah bila ada sesuatu yang lebih penting dan mendesak yang terkait dengan keselamatan nyawa ataupun harta benda hamba-hambanya.
Zakat yang beragam sumbernya itu diwajibkan bukan untuk kepentingan Tuhan tapi untuk kepentingan membantu hamba-hambaNya. Pahala sedekah berlipat-lipat mengalahkan pahala ibadah lainnya. Hukuman denda seperti kafarat misalnya selalu lebih diutamakan berupa materi yang kegunaannya untuk membantu penderitaan sesama; membebaskan perbudakan, memberi makan dan pakaian fakir miskin, menyembelih hewan atau berupa pembayaran lainnya.
Semua itu bukan untuk Tuhan tapi untuk kepentingan manusia, Tuhan tidak butuh apa-apa. Melayani dan mengasihi manusia adalah melayani dan mencintai Penciptanya. Disitulah sesungguhnya esensi kekhalifahan manusia.
Keadilan hukum dan ekonomi, kesejahteraan dan pembelaan terhadap kaum yang lemah adalah salah satu misi besar Al qur'an dan risalah kenabian, termasuk juga keilmuan dan pendidikan. Berulang-ulang ayat Al qur'an mengingatkan pentingnya masalah tersebut. Setiap menyebut keimanan pasti dibarengi dengan amal dan prilaku baik terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya.
Pertanyaannya, mengapa realitas tidak seiring dengan religiusitas yang nampak begitu gemerlap dalam kehidupan keberagamaan kita?
Seperti yang juga Allahu yarham KH.Abdurrahman Wahid pertanyakan; mengapakah kepastian teologis agama-agama besar tidak berhasil melahirkan kepastian jawaban bagi masalah dasar manusia seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesempitan pandangan dan seterusnya?
Jangan-jangan kita terbuai dengan yang remeh temeh, abai dengan yang lebih penting darinya. Jangan-jangan kita sibuk mengejar sunnah, melupakan kewajiban yang sesungguhnya. Jangan-jangan yang kita makan kulit, malah kita buang isinya?
Entahlah ! Mari merendah sejenak dan muhasabah bersama-sama. Lupakan hiruk pikuk politik yang menghilangkan akal kewarasan kita. Lupakan kebencian dan caci maki yang mematikan kemanusiaan kita.
Mari, mari !
Semoga Tuhan memberkahi kebersamaan kita. Amin.
Penulis:
Sholahuddin
KOMENTAR